Selasa, 16 Juni 2020

Pentingnya Konsistensi Diri untuk Menjadi Penulis Blog

Pria muda yang sering di panggil Brian ini mempunyai nama lengkap Raimundus Brian Prasetyawan, S.Pd. Ia kelahiran Jakarta, 30 Juni 1992  berprofesi sebagai guru SD. Aktivitas lainnya yaitu menulis buku,  menulis puluhan artikel yang sudah banyak dimuat media cetak, dan suka menulis di blog.

Untuk mengasah bagaimana cara menulis yang baik dan menarik, Brian bergabung dengan grup belajar menulis Om Jay. Berawal dari peserta saja, ia kemudian tergerak untuk membantu  peserta lain yang kesulitan dalam membuat/menggunakan blog. Kebetulan ia sudah hobi ngeblog sejak 2009.

“Mengapa saya mau membantu ? poin utamanya adalah saya ingin punya banyak teman-teman guru blogger. Saya ingin bapak/ibu tidak merasa bahwa blog itu media yang sulit digunakan. Saya khawatir jika kesulitan yang dialami tak kunjung mendapat solusi, bapak/ibu akan meninggalkan blog,” jelas Brian lewat WAG pelatihan menulis Senin 15 Juni 2020.

Sebelum bergabung dengan grup belajar menulis Om Jay, ia merasa sendirian menjadi guru blogger. Ia bersyukur dipertemukan grup tersebut sehingga dapat berjumpa dengan guru-guru blogger luar biasa di seluruh Indonesia. Maka ia  berharap grup tersebut nantinya tetap eksis.

Menurut Brian, sekarang ini banyak blogger yang terjebak pada motivasi yang berorientasi pada hasil, khususnya penghasilan dari iklan. Ini motivasi yang sebaiknya dihindari, karena jika tak kunjung dapat penghasilan, kita akan mudah meninggalkan blog. Memasang iklan boleh saja tapi jangan terlalu banyak berharap.  Apalagi bagi blogger yang baru membuat blog, perlu menunggu minimal 6 bulan jika ingin mendaftarkan blognya ke google adsense, itu pun tidak dijamin pasti diterima.

Jadi dapat disimpulkan bahwa motivasi menjadi faktor penting untuk menjaga konsistensi ngeblog. Motivasi ada dua, yaitu dari hasil ngeblog dan target ngeblog. Kita harus mengasah kemampuan menulis hingga menerbitkan buku. Blog digunakan sebagai media tempat kita menulis saja.

Ide Tulisan

Kurangnya Ide tulisan kerap menjadi penghambat aktivitas menulis kita, Terkadang  kita sudah berada di depan laptop dan siap menulis, tapi masih bingung mau menulis apa. Menurut Brian, kita tidak perlu menunggu ide/kejadian hebat untuk bisa menulis. Ia memiliki prinsip, hal biasa yang kita lakukan/alami bisa jadi dianggap luar biasa bagi orang lain. Maka hal yang paling mudah ditulis adalah pengalaman/aktivitas sehari-hari di rumah atau di tempat kerja. Apalagi kita guru, tentu punya banyak cerita.

Blogger vs Wordpress

Ini pertanyaan yang tidak pernah ada habisnya dari masa ke masa. Lebih bagus pakai blog apa ? Blogger atau wordpress. Antara blogger atau wordpress tergantung selera masing-masing. Lebih spesifik lagi, tergantung blog mana yang pertama kali  dikenal. Jika pertama kali blog yang dikenal adalah wordpress, maka akan mempelajari wordpress sampai terbiasa dan nyaman, sehingga menganggap wordpress lebih bagus. Maka menurut Brian, Tidak ada jawaban objektif untuk menjawabnya. Jika ada yang bisa menjawabnya, kemungkinan dipengaruhi subjektivitas. Orang yang sudah lama terbiasa menggunakan blogger akan menjawab blogger lebih bagus. Begitu juga sebaliknya.

Jadi sebenarnya tidak perlu membandingkan blogger dan wordpress. Yang perlu dilakukan adalah memilih salah satunya dan gunakan secara konsisten.

Teknis penggunaan blogger

Hal terbaru dari blogspot adalah blogger.com perlahan-lahan menuju perubahan tampilan baru. Saat ini, jika baru membuat blog, maka secara otomatis kita disajikan penampilan baru blogger.com. Namun ini masih tahap uji coba. Kita masih dapat mengembalikan ke  tampilan lama blogger. Namun suatu saat nanti pasti tampilan baru akan menjadi permanen. Maka sebaiknya bapak/ibu sedikit demi sedikit mulai membiasakan diri dengan tampilan baru blogger.com. Blogger.com memang kerap mengubah tampilan. Sudah tak terhitung berapa kali berubah tampilan sejak Brian pertama kali ngeblog pada 2009.

Saat ini Brian memiliki dua buku solo. Pertama buku blog untuk guru yang sudah diterbitkan. Kedua buku aksi literasi guru masa kini baru terbit bulan lalu. Buku kedua ini berisi kumpulan artikel yang berasal dari blog praszetyawan.com dan blog gurusiana. Ia  memilih-milih yang sesuai dengan tema buku yaitu literasi. Sebagian lainnya merupakan tulisan baru yang belum pernah diposting ke blog.


Dalam waktu dekat buku solo ketiga Brian juga akan terbit. Berjudul Menerjang Tantangan Menulis Setiap Hari berisi tentang best practice, aktivitas di sekolah, dan opini pendidikan. Tulisan-tulisan itu ia buat ketika mengikuti program tantangan menulis setiap hari yang diadakan gurusiana. Selain ketiga buku solo, Brian juga membuat satu buku antologi cerita mini bersama siswa sekelas dengan tema hobi. Semua buku itu masih ia terbitkan di penerbit indie.

Tips Membukukan tulisan di blog

Sudah menjadi rahasia umum bahkan menjadi sebuah tren bahwa kumpulan tulisan di blog dapat dibukukan. Membukukan tulisan blog akan lebih mudah jika blog memiliki niche. Niche adalah istilah yang merujuk pada tema khusus yang digunakan pada seluruh postingan suatu blog. Contoh niche blog yaitu pendidikan, kesehatan, buku, otomotif, fashion, kuliner, travelling, dan lain sebagainya. Blog dengan niche pendidikan maka semua tulisannya berkaitan tentang pendidikan. Brian sendiri memiliki blog dengan niche tutorial blogger, blog buku, dan blog pembelajaran.

Buku memerlukan sebuah tema. Walaupun isinya berupa kumpulan berbagai artikel, diperlukan satu tema besar yang menjadi benang merahnya. Blog dengan niche akan memudahkan. Blog pendidikan tentu seluruh artikelnya tentang pendidikan. Maka buku yang akan terbit bertema pendidikan.

Berbeda jika blog kita tidak memiliki niche yang jelas. Segala macam tema ada di blog itu. Blog seperti itu bisa disebut blog personal. Ini yang terjadi pada Brian. “Kenapa blog saya tema tulisannya campur aduk ? karena saya menulis apa saja yang memang ingin saya tulis saat itu. Sehingga saya tidak terlalu pusing untuk mencocokkan tema tulisan dengan niche blog. Saya bebas menulis apa saja tanpa terikat niche blog, “ terang Brian.

Menurut Brian, dulu ia merasa bingung. Bagaimana cara membukukan tulisan di blog dengan kondisi isi blognya campur aduk. Ada tulisan tentang sepak bola, cerita pengalaman, jurusan kuliah, dunia menulis, kisah masa kuliah, pendidikan, chord lagu, musik, travelling, opini, dan banyak lainnya. Sedangkan orang lain berhasil membukukan tulisan blog karena blognya memiliki 1 niche. Akhirnya ia mendapat solusi. Caranya yaitu menentukan beberapa tema besar postingan yang kira-kira bisa dibukukan. Setelah dipilah-pilah maka dari satu blog itu ia jadikan menjadi  5 buku. Masing-masing temanya adalah dunia menulis, dunia blogging, cerita pengalaman & opini, pendidikan, dan travelling.

Jadi, kekonsistenan diri sangat diperlukan untuk menjadi seorang penulis. Yang penting menulis, menulis, dan menulis. Blog sebagai media untuk mempublikasikan tulisan kita.

***

               *resume esti sukapsih*


Sabtu, 13 Juni 2020

Mengenal Lebih Dekat dengan Blogger Indonesia Mr Bams

Mr Bams,  siapa yang tidak kenal dengan sosok ternama yang sudah wira-wiri di dunia blogger dan pegiat literasi? Nama lengkapnya yaitu Bambang Purwanto, S.Kom., Gr. Ia bekerja di SMP Taruna Bakti sejak  tahun 2008. Ia juga seorang guru kelas online dan offline, seorang blogger senior dari Bandung, pendongeng, pegiat literasi ( Ketua TBM Lebakwangi).

Mr Bams senang dengan dunia tulis menulis, maka sejak tahun 2003 ia aktif menjadi pendongeng. Menurutnya sebagai sumber mendongeng harus banyak membaca buku. Tahun 2011 ia membuat Taman Baca di rumah sendiri, dan sejak tahun 2012 taman baca sudah mandiri, maka sekeluargapun memutuskan untuk pindah agak jauh dari Taman Baca.

Mr Bams juga memiliki label sosok pegiat literasi. Sejak tahun 2011 ia sudah kenal dengan Gol A Gong, penulis hebat Balada si Roy. Beliau juga pendiri Rumah Dunia. Rumah Dunia adalah taman bacaan yang keren. Di sekolah pun telah ia tanamkan kegiatan literasi selama 15 menit meskipun dulu belum  ada program Gerakan Literasi Sekolah.

Prestasi yang diraih Mr Bams yaitu pada tahun 2019 mampu mengentarkan SMP Taruna Bakti mendapatkan Juara Literasi Katagori Utama mengalahkan sekolah negeri yang favorit, mendapat Anugerah Penggiat Literasi Dari Dinas Pendidikan Kota Bandung. Tahun 2019 pun ia  mengikuti ajang Guru Inspiratif  Een Sukaesih 2019, masuk enam besar dan mendapatkan penghargaan dari Kepala Disdik Jabar dan Bapak Gubernur

Mr Bams memasuki dunia Blogger

Mengapa Mr Bams memasuki dunia blogger?  Baiklah ada beberapa tujuan mengapa ia  membuat Blog yaitu karena ia malu sebagai guru TIK tidak punya blog. Selain itu, ia juga malu sebagai penggiat literasi tidak punya blog. “Ada hal lagi yaitu berbagi pengalaman, menyimpan tulisan sepanjang zaman (bukan sepanjang hayat), dan  menghasilkan rupiah juga tujuan saya memasuki duni blogger,” jelas Mr Bams lewat WAG ketika pelatihan menulis, Jumat 12 Juni 2020

Menurut Mr Bams blog itu  bisa berisi tulisan  yang disukai, seperti cerpen atau puisi. Selain itu, bisa juga sesuatu  yang bisa membantu orang lain, misal  sebuah blog untuk mendukung kegiatan. Seperti apa yang ia lakukan bersama Omjay saat ini yaitu membuat  daftar hadir sekaligus rekap di penamrbams.id. Peserta tinggal datang ke blog, kemudian klik daftar hadir, tanpa harus mencari chat di grup WA. Berkah wabah Covid-19 ia memberanikan diri untuk buka kelas blog yang diinspirasi oleh Om Jay Dan Kan Enco. Ia mengelola kelas online dengan cepat membuka tiga kelas blog.

Pesan  Mr Bams sebagai blogger yaitu  harus melakukan  apa yang mau dan bisa kita lakukan. Banyak orang yang bisa tapi kadang tidak mau melakukannya. Bermodal mau maka akan menjadi bisa. “ Masih banyak orang hebat di sana. Kita bukan untuk menjadi orang hebat, akan tetapi semoga kita menjadi orang yang bermafaat kapanpun, dimanapun dengan siapapun, “ tuturnya.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa sebagai guru tantangan saat ini sangat luar biasa, membiasakan menulis adalah bagian dari keterampilan yang harus diperlihatkan. Caranya dengan menulis diblog, mengirimkan tulisan ke media cetak (koran, majalah, media online) kemudian membuat buku. Buatlah blog yang dikelola sepenuh hati, tidak hanya memenuhi target. Akan tetapi, tumbuh kembangkanlah blog, sehingga blog bisa menjadi cerminan pemiliknya. Berbagilah kebaikan dengan cara apapun, termasuk media blog. Setiap orang punya potensi yang luar biasa, maka galilah dan kembangkan. ***

 

                        *resume by esti sukapsih*

 

 


Kisah Inspiratif Guru Agung dalam Meningkatkan Literasi Guru Sampai ke Pelosok Negeri

Agung Pardini yang dikenal dengan sebutan Guru Agung mempunyai kiprah yang luar biasa dalam bidang literasi. Pria kelahiran Cibinong Bogor ini dengan tulus dan ikhlas membimbing dan mendampingi para guru yang bertugas di daerah-daerah terpelosok di Indonesia untuk meningkatkan kemampuan literasi.

Agung mempunyai segudang prestasi sebagai seorang guru sekaligus menjadi penulis. Ia menulis artikel di berbagai media masa, menulis berbagai buku yang berkualitas, pembicara atau narasumber (nontraining)  sampai menjadi pemateri pelatihan guru ( public Treaching) di berbagai daerah.  Sejak tahun 2009, ia menjadi Master Teacher Sekolah Guru Indonesia (SGI) di bawah Lembaga Kemanusiaan Dompet Duafa.

 Banyak pengalaman yang Agung dapat beserta teman-teman selama menjadi pendamping menulis para guru. Beberapa buku karyanya diterbitkan antara lain antologi atau dikerjakan secara bersama-sama. Seperti buku yang berjudul Kelana Guru-Guru Muslim dan Batu Daun Cinta Teman Setia Belajarku. Buku ini berisi kisah-kisah inspiratif dari para pejuang muda pendidikan yang mengabdi sebagai guru-guru di daerah pelosok seperti ada yang tinggal di kepulauan, di hutan dan pegunungan, pelosok kampung bahkan sampai pernah terdapat guru muda yang meninggal dalam tugas di penempatan.

Banyak cerita yang menarik Agung dapatkan selama menjadi pendamping menulis  para guru. Menurutnya, di tengah keterbatasan kondisi geografis dan budaya, aktivitas menulis dan berkarya ini memiliki tantangan sendiri untuk para guru di daerah tersebut. “Adapun kendala tersebut antara lain beberapa istilah bahasa Indonesia yang dimaknai secara berbeda di daerah, banyak guru yang belum mengenal MS Office, listrik hanya menyala di malam hari di beberapa wilayah,  dan banyak guru yang belum mengenal tata bahasa baku bahasa Indonesia atau ajaan yang baku, “ ujar Agung melalui WAG pelatihan menulis, Rabu 10 Juni 2020.

Cara mengatasi kendala yang ada di daerah pelosok tersebut, Agung menggunakan model pendampingan intensif. Ia beserta para konsultan dan guru-guru ralawan dengan sabar dan tekun  selalu mendampingi dan memberikan bimbingan menulis kepada para guru. Ia mengajak para guru untuk menulis  bersama-sama “Jurnal Perjalanan Guru”. Jurnal ini wajib dikerjakan oleh setiap guru yang sedang mengikuti proses pembinaan di Kampus SGI.

 Setiap malam para guru harus menulis pengalaman mereka selama di siang hari dengan modelnya bermacam-macam. Bisa berupa curhat, sampai dengan membahas suatu teori kependidikan dan kepemimpinan. Setelah pagi tiba, sebelum beraktivitas dalam pembinaan, semua jurnal dikumpulkan untuk diapresiasi dan ditanggapi hal ini menjadi semacam refleksi dan evaluasi. Sehingga melalui jurnal tersebut Agung dan tim jadi tahu akan perasaan dan pikiran yang tengah bergejolak di hati mereka.

Jika ada perasaan hati yang negatif dari para guru, Agung dan tim bisa langsung coaching atau conseling. Biasanya masalah kondisi batin yang dialami seperti rindu keluarga, sakit hati dan berbagai macam cerita lainnya. Selain kebiasaan menulis di jurnal, para guru juga dibiasakan dengan  aktivitas membaca. Karena banyak baca akan mampu mengembangkan kepekaan literasi para guru. Bedah buku juga kebiasaan yang dilakukan ketika apel pagi. “Sebagai pembina apel maka juga harus memberikan kajian bedah buku dengan dimulai buku-buku yang ringan seperti novel atau yang lainnya. Setelah itu, pemberian motivasi secara bergantian dengan menggunakan kata-kata yang dinukil dari para tokoh, ativitas ini dinamakan “Semangat Pagi,” ujarnya.

Beberapa jenis tulisan dan karya guru-guru tersebut akhirnya bisa dibukukan dengan bantuan dari Donasi Dompet Duafa. Buku-buku yang diterbitkan tidak untuk  diperjual belikan. Namun  dibagikan secara gratis untuk guru-guru di daerah lain yang membutuhkan. Sehingga, diharapkan dapat memberikan manfaat dan masukan bagi inovasi pembelajaran di daerah lain.

Jadi, pembelajaran literasi tidak pandang geografis dan budaya seperti apa yang dilakukan Agung Pardini. Di manapun tempatnya, kita dapat berbagi ilmu untuk orang lain sehingga dapat ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.  Seperti pepatah yang pernah dikatakan Bung Karno,  jangan kau bertanya apa yang negara berikan kepadamu, namun  bertanyalah apa yang kau berikan untuk negara ini .  ***

                                    *resume by esti sukapsih*


Rabu, 10 Juni 2020

Dari Blok Cepu Lahirlah Penulis Ternama

Blok Cepu mendengar kata itu kita akan teringat bahwa daerah tersebut merupakan ladang minyak dan gas bumi yang ada di Pulau Jawa.  Blok Cepu meliputi wilayah Kabupaten  Bojonegoro - Jawa Timur, Kabupaten Blora - Jawa Tengah, dan Kabupaten Tuban - Jawa Timur. Dari salah satu wilayah tesebut yaitu Bojonegoro lahirlah seorang penulis ternama yaitu  Emi Sudarwati.

Emi Sudarwati  selain menjadi Guru  Bahasa Jawa SMPN 1 Baureno Bojonegoro, Jawa Timur juga sebagi Pegiat Literasi Guru dan Siswa Indonesia.  Namanya tertulis di dalam lebih dari 460 buku ber-ISBN.  Pada tahun 2013.  Ia bergabung dengan sebuah kelompok penulis di Bojonegoro.  Namanya PSJB (Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro).  Di sana ia  banyak berjumpa dan berkenalan dengan penulis-penulis senior.  Seperti : JFX. Hoery (Padangan-Bojonegoro),  Sunaryata Soemardjo (Ngimbang-Lamongan), Nono Warnono (Gajah Indah-Bojonegoro), Gampang Prawoto (Sumberrejo-Bojonegoro), Sri Setyo Rahayu (Surabaya), almarhum Anas AG (Pemred  Radar Bojonegoro-waktu itu), dan masih banyak lagi yang lainnya. Dari orang-orang hebat di dunia tulis-menulis itu, akhirnya ia mendapatkan pencerahan bahwa karya siswa yang sudah terkumpul bisa diterbitkan dengan ISBN (Internsional Standart Book Nomber).

Pada awal tahun 2014 ini terbitlah Kumpulan Cerkak karya Emi Sudarwati dan Siswa SMPN 1 Baureno dengan judul buku LUNG.  Pada penghujung tahun 2014 ia kembali bekerja sama dengan PSJB. Ia menerbitkan buku karyanya dan siswa SMPN 1 Baureno.  Tidak berhenti sampai di situ.  Karya-karya ini juga mendapat sambutan baik dari kepala sekolah, kepala dinas pendidikan, bahkan Bupati Bojonegoro saat itu.

Sampai-sampai Emi  dan siswanya didatangi oleh salah satu wartawan radar Bojonegoro untuk wawancara.  Alhasil, besuknya tayang di surat kabar harian radar Bojonegoro yang sangat terkenal itu.  Dari sana,  semua penasaran dengan buku karya siswa tersebut.  Sehingga Toko Buku Nusantara Bojonegoro banyak diserbu pembeli buku.  Semua ingin membaca dan belajar menulis, serta menerbitkan buku.

Buku karya Emi Sudarwati dan siswa SMPN 1 Baureno  menjadi inspirasi bagi banyak sekolah.  Bukan hanya di Bojonegoro, namun juga di kabupaten lain.  Sehingga sering diwawancara wartawan berbagai media,  baik cetak maupun on line.  Akhirnya ia bisa tampil di berbagai media tanpa harus membayar sepeserpun.

Pada tahun 2016, Emi ditugaskan mengikuti seleksi guru prestasi tingkat Kabupaten Bojonegoro.  Sebenarnya saat itu sudah untuk yang ke dua kalinya.  Karena banyak guru menolak mengikuti seleksi tersebut, akhirnya ia ditugaskan lagi.  Ternyata tidak sia-sia, ia bisa menduduki juara ke tiga dari tiga puluhan peserta.

Pada tahun yang sama, Emi kembali mengirimkan karya inobel.  Kali ini bukan atas inisiatif  kepala sekolah, tetapi keinginannya sendiri.  Karena pengalaman tahun 2015 lalu begitu menginspirasi.  Kali ini bukan karya baru.  Namun karya lama yang diedit, dengan tambahan sesuai yang diberikan oleh dewan juri.  Alhasil, mendapat juara 1 inobelnas kategori SORAK (Seni, Olah Raga, Agama, bimbingan Konseling dan Muatan Lokal).

Tidak lama seusai lomba,  Emi mendapat panggilan untuk short Course di Negeri Belanda.  Belajar sistem pendidikan di negri kaum penjajah yang super maju itu.  Berkunjung ke dua universitas terbaik, yaitu Windesheim dan Leiden.  Juga berkunjung ke sekolah-sekolah terbaik, yaitu Van Der Capellen dan lain-lain.  Bukan hanya itu, semua peserta diajak berwisata ke Volendam, menyusuri Kanal Amsterdam dan mampir ke Brussel-Belgia.

Sepulang dari Belanda, Emi masih juga mendapat panggilan workshop menulis jurnal di Kota Bali. Lagi-lagi, di samping belajar ia juga bisa berwisata keliling kota terindah di negeri ini.  Kali ini, ia dan peserta lain mendapat materi merubah naskah inobel menjadi jurnal.  Tentu ini bukan hal kecil, karena naskah tersebut akan dimuat dalam jurnal berkelas nasional.  Nama jurnalnya adalah DEDAKTIKA.

Tahun 2017 tidaklah  berhenti sampai di situ.  Beberapa bulan berikutnya Emi diundang untuk mengikuti workshop Literasi di Kota Batam.  Tidak ingin melewatkan kesempatan, beberapa peserta menyempatkan mampir ke negara tetangga, yaitu Singapura.  Sehari di Kota Lion, ia melahirkan sebuah buku berjudul Dag Dig Dug Singapura.

“Bukan aji mumpung atau apa, hanya tidak ingin melewatkan kesempatan baik.  Kapan lagi seorang guru bisa jalan-jalan ke Singapura, kalau bukan memanfaatkan kesempatan baik tersebut. Kebetulan juga bertepatan dengan liburan sekolah, jadi sama sekali tidak mengganggu kegiatan belajar-mengajar di sekolah,” kata Emi walaupun lewat WAG dalam pelatihan menulis.

Pasca menyandang predikat juara I inobelnas,  Emi belum boleh lagi mengikuti lomba yang sama.  Tentu dalam waktu yang belum bisa diprediksi.  Oleh karena itu,  Ia tidak ingin kesepian.  Lalu ia mengajak teman-teman alumni finalis inobelnas untuk menulis bersama dalam satu buku.  Ia menyebutnya dengan istilah Patungan Buku Inspiratif.

Bukan hanya karya yang bersifat ilmiah.  Namun, dalam grup tersebut juga menerbitkan kumpulan cerita inspiratif,  berbagi pengalaman mengajar, kumpulan puisi, kumpulan pantun dan masih banyak lagi buku-buku lainnya. Dalam perkembangan selanjutnya, bahkan bukan hanya menerbitkan buku-buku patungan.  Namun,  saat ini lebih banyak menerbitkan SBGI (Satu Buku Guru Indonesia) dan SBSI (Satu Buku Siswa Indonesia).

Tahun 2018 Emi telah melahikan ratusan buku lahir dari grup Patungan Buku Guru Inspiratif.  Karena sejak tahun 2018 ini ia lebih banyak menerbitkan SBGI dan SBSI, maka nama grup dirubah yaitu menjadi Penerbit Buku Inspiratif (PBI).  Akhirnya, Ia mendapatkan beberapa undangan dari daerah-daerah lain misalkan dari Kota Bogor, Sampang, Tuban, Blitar, Lamongan, Yogyakarta dan lain-lain. 

Akhirnya Emi berinisiatif, hanya menerima undangan sebagai nara sumber pada Hari Sabtu-Minggu atau Jumat sore. Sedang di Bojonegoro sendiri, Emi aktif sebagai Guru Ahli (GA) di Pusat Belajar Guru (PBG).  Setiap saat ia harus siap menerima panggilan sebagai pemateri seminar maupun pelatihan.  Juga sebagai juri dalam lomba-lomba guru.  Tempatnya bisa di PBG pusat atau di PBG kecamatan.

Selain di PBG Emi juga aktif di PGRI.  Yaitu sebagai juri lomba guru menulis dan pelatihan meulis buku.  Memotivasi guru-guru Bojonegoro agar lebih inovatif dalam mengajar, dan lebih kreatif dalam menulis. 

Menghimbau agar guru-guru lebih sering mengirimkan hasil karya ke media.  Prinsip Emi yaitu jangan berharap sekali kirim pasti tayang atau dimuat.  Namun harus bersabar, terus-menerus mengirim naskah.  Lama kelamaan pasti dimuat juga. Bukan karena penerbit merasa kasihan, tapi memang pengalaman meulis itu sangat diperlukan.  Dengan terus-menerus mengirim naskah, berarti sudah terus menerus belajar menulis pula.  Dari proses tersebut kita belajar.  Belajar meminimalisasi kesalahan.

Tahun 2019 Emi mengawali terbitnya buku  Kado Cinta 20 Tahun dan Haiku.  Karya ini ditulis berdua dengan suami.  Selanjutnya, di tahun yang sama. Ia  ingin menerbitkan dua buku tunggal dan beberapa buku patungan.  Buku tunggal yang pertama berbahasa Jawa, yaitu Pengalaman Selama Haji dan Umrah.  Sedangkan buku tunggal yang ke dua adalah Menulis dan Menerbitkan Buku sampai Keliling Nusantara dan Dunia.

Adapun untuk patungan, Emi menulis bersama siswa SMPN 1 Baureno dan bersama grup Patungan Buku Inspiratif.  Ia juga menulis bersama Penerbit Pustaka Ilalang. Saat ini Emi konsentrasi mengelola TBM Kinanthi. Untuk penerbitan buku, Ia kerja sama dengan Majas Grup (Penerbit Majas, Dwi Putra Jawa, dan Praktek Mandiri).

Jadi menjadi penulis yang sukses itu membutuhkan perjuangan. Tidak mengenal putus asa. Harus aktif, kreatif dan inovatif. Jangan takut gagal. Dengan tulisan itu, kita akan dikenang sepanjang masa. Semoga**

 

                                                            *resume by esti sukapsih*

 


Sabtu, 06 Juni 2020

Dunia Tulis Menulis Tak Kenal Batas Usia

Mendengar kata menulis terkadang ada orang  yang merasa terlambat karena merasa sudah tidak muda lagi. Mereka menganggap dunia tulis menulis itu hanya khusus untuk kaum muda-muda saja. Padahal anggapan seperti itu tidak benar. Ada banyak penulis  yang sudah terkenal yang memulai menulisnya diusia tidak muda lagi. Salah satu contoh penulis di Indonesia yaitu Sri Sugiastuti. Wanita energik yang lahir tahun 1961 ini mulai menulis ketika usianya jelang setengah abad.

Tahun 2010 jadi tahun keberuntungannya ketika dua bukunya bisa terbit. Buku SPM Ujian Nasional Bahasa Inggris untuk SMK penerbit Erlangga dan Antologi Diary ketika Buah Hati Sakit. Selanjutnya  puluhan buku lahir darinya.  Ide-ide brilian telah mengisi buku-buku tersebut. Dari jenis buku novel, motivasi sampai jenis buku parenting telah ia tulis. Sebagian besar bukunya diterbitkan oleh penerbit yang ternama di Indonesia.

Menurutnya, dari menulis buku pertama tingkat nasional  maka lahirlah kepuasan batin dan ingin selalu menulis lagi. Selain itu, kita juga dapat menikmati royalti yang banyak dari buku yang diterbitkan. Bahkan buku pertamanya menjadi buku wajib untuk pengadaan disetiap sekolah di seluruh Indonesia. Berproses, berbekal usaha, dan selalu mengupgrade diri itulah prinsip yang akhirnya ia bisa menulis buku yang berkualitas.

Karier menulis berawal dari kuliah S2 tahun 2007. Ia harus berkenalan dengan internet, medsos, dan banyak membaca buku. Akhirnya ia tertarik pada salah satu buku yang berjudul Menulis Itu Gampang. Dari membaca buku tersebut, akhirnya lahirlah motivasi untuk menulis.

Pengalaman sebagai penulis pemula yaitu dengan berbekal apa yang ada di pikiran dan hati ditulis saja. Akhirnya dengan kesabaran, tulisan-tulisan itu bisa diterbitkan secara indi dengan menggunakan identitas nama pena. Buku setebal 418 halaman tersebut berisi  kisah nyata yang dialami ibunya ketika masih remaja sampai bisa bertemu dengan ayahnya dan kisah pengalaman hidup Sri sampai usia  50 tahun.

Sri Sugiastuti juga sering menulis berbagai jenis antologi dari banyak komunitas cinta literasi yaitu kompasiana, blogger atau komunitas lain. Untuk tulisan di antologi, ia sudah menulis sekitar 25 buku. Menurutnya ada keuntungan dari menulis antologi yaitu dapat belajar dari jenis tulisan teman-teman dan akan mengetahui ciri khas tulisan kita sendiri.

Jadi menulis buku tidaklah mengenal batas usia. Siapa yang mau berusaha pasti akan ada jalan kemudahan untuk melahirkan buku yang berkualitas. Mari mulailah menulis apa yang ada di hati dan pikiran kita. ***

 

                                                *by esti sukapsih*

 

 


Jumat, 05 Juni 2020

PTK Dijadikan Buku, Mengapa Tidak?

Pada zaman pesatnya perkembangan taknologi sekarang ini guru dituntut untuk dapat kreatif. Yaitu kreatif bagaimana caranya agar siswa itu dapat menemukan pasionnya. Siswa dapat mengembangkan minat dan bakatnya sehingga dapat menjadi orang yang berakhlak, terampil, inovatif dan mandiri.

Dalam perjalanan untuk mengajar dan mendidik siswa, guru pasti menghadapi berbagai macam kendala.  Salah satunya minat belajar siswa yang rendah sehingga mengakibatkan hasil belajar  rendah. Kadang guru merasa bingung bagaimana cara untuk menyelesaikan permasalahan tersebut? Tentu saja tidak usah bingung. Upaya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut yaitu guru dapat melakukan Penelitian Tindakan Kelas /PTK. PTK diharapkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa dapat terurai sehingga proses pembelajaran akan lebih efektif dan hasil yang maksimal.

Manfaat PTK yang dilakukan guru selain untuk mengurai dan menyelesaikan permasalahan siswa  juga dapat digunakan sebagai karya tulis yang dapat dinilaikan untuk kenaikan pangkat. Itulah manfaatnya  dalam membuat PTK. PTK dapat disusun dengan berbagai macam versi. Antara lain versi artikel, jurnal, sampai bisa dijadikan buku.

Dalam mengubah PTK menjadi buku, penting sekali kita memperbanyak isi materi variabel bebasnya. Kata kunci judul buku dan lebih memperluas isi bacaannya juga sangat penting. Tentu saja berdasarkan sumber yang relevan. Selain itu, untuk menjadi buku maka perlu proses pengeditan yang sangat teliti terutama bagaimana menyajikan materi untuk menjadi sebuah buku agar tata letaknya menarik untuk dibaca.

PTK yang dibukukan dapat berasal dari dua penulis tetapi untuk penilaian PAK tentu saja di bagi dua, ada penulis pertama dan penulis kedua. Jumlah halaman buku yang berasal dari PTK paling sedikit 70 halaman.

Berapa siklus yang dilakukan agar PTK bisa dibukukan? Terkadang banyak pertanyaan yang dilontarkan pleh para guru. Berdasarkan Researc Granct Seaqis yang diterima oleh Hati Nurahayu nara sumber pelatihan menulis bersama Om Jay, PTK bisa dilakukan sekali siklus saja jika sudah berhasil. Akan tetapi bisa dilakukan dua siklus jika belum berhasil.  PTK harus fokus pada inti permasalahan misalnya tentang karakter atau pemahaman saja. Selain itu, juga jangan terlalu banyak indikator.

Dalam menyusun buku dari PTK, kita perlu adanya ide dan kreativitas, maka membaca banyak  reverensi sangat penting. Kita harus mengupayakan bagaimana  pembaca bisa memahami isi buku kita secara lengkap dan mengena. Semakin literatnya penulis akan semakin bagus  buku yang ditulis. Karena literasi merupakan rangkaian membaca, berpikir dan menulis. Maka dari itu, mulailah menulis PTK.  Jangan takut salah, nanti akan dapat menghasilkan karya yang luar biasa dapat bermanfaat bagi diri kita dan orang lain.  Semoga ***

 

                                                                                                           *By esti sukapsih*


Senin, 01 Juni 2020

Sepenggal Kisah Kesuksesan Sang Blogger

Siapa yang tidak kenal dengan blogger yang ternama. Dia adalah Wijaya Kusumah yang lebih dikenal dengan Om Jay. Dia sudah lama malang melintang di dunia tulis menulis. Pahit getir sudah dia rasakan. Dari menulis di blog dia telah melahirkan empat buku yang laris manis di pasaran. Buku-buku tersebut  yaitu catatan Harian Seorang Guru Blogger, Melejitkan Keterampilan Menulis Siswa, Blogger Ternama, dan Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi.

Banyak cerita yang menginspiratif diungkapkan Om Jay meskipun hanya lewat WaG dalam pelatihan menulis. Buku Catatan Harian Seorang Guru Blogger diterbitkan dalam waktu enam bulan. Buku ini dikerjakan dengan sangat  teliti oleh  editor meskipun belum pernah bertatap muka. Mereka berkomunikasi hanya lewat wa saja. Isi buku tersebut berasal dari kisah nyata Om Jay.

Buku Melejitkan Keterampilan menulis Siswa diterbitkan hanya dalam waktu tiga bulan. Buku ini merupakan hasil Penelitian Tindakan kelas (PTK) dan membuat Om Jay lolos masuk final lomba karya inovasi pembelajaran  tingkat nasional. Berkat laporan PTK  telah terbitlah buku ini ber-ISBN yang diminati banyak orang sehingga bisa mendapatkan berbagai hadiah.

Buku Blogger Ternama adalah sebuah buku yang diterbitkan dari hasil menulis di blog selama enam bulan. Buku ini juga menceritakan kisah nyata Om Jay menulis di blog dan menjadi blogger ternama. Kisah inspiratif bagaimana seorang guru yang biasa saja dapat menjadi guru yang luar biasa.

Buku Menulislah Setiap Hari merupakan buku yang diterbitkan pertama kali di penerbit mayor. Perlu kerja keras dan tak kenal putus asa Om Jay untuk bisa menerbitkan buku tersebut. Akhirnya tiga tahun kemudian terbitlah buku tersebut dan laku keras di pasaran.

Dengan kesabaran dan ketekunan Om Jay menulis di blog akhirnya bisa terbit beberapa buku tersebut dan dapat memetik hasilnya. Antara lain dia dapat kuliah singkat di China University of Mining Technology atau Cumt  dengan uang pesangon yang begitu banyak. Bisa beli rumah baru, bisa jalan-jalan ke Singapura dan keliling Indonesia.  Selain itu, bisa sampai diundang makan bersama dengan Presiden Joko Widodo.

Pesan Om Jay, buku bisa terbit berkat kolaborasi antara penulis dan editor. Penerbit yang baik tentu memerlukan waktu dalam proses editing. Jadi menulis buku itu bertujuan untuk berbagi ilmu dan pengalaman bukan sekedar menambah point untuk kenaikan pangkat saja. Oleh karena, itu mulailah menulis. Menulis di blog dengan tulisan yang menarik dan inspiratif akan mendapatkan apresiatif. ***